Mrs. Arrazaq's Diary

wajah CINTA dari sodako 55

Posted in Uncategorized by mrsarrazaq on August 26, 2008


bukan, bukan! ini bukan sodako 55


Ada yang berbeda dari perjalanan ke kantor hari ini. Awalnya memang datar aja. Tetap naik sodako dengan nomor 55 seperti biasa. Tapi karena hari ini ga ngantuk dan kebetulan juga stok bacaan kemaren pas tamat dibaca sementara stok baru belom ada. Nah, jadilah hari ini cuma bengong aja di dalem sodako sambil ngarepin si abang sopir mau ngidupin tabuh2an untuk ngibur penumpangnya. Eh ternyata setelah diintip ke kabin (ups kapal kalee kabin) ga ada tape yg bercokol, tau gini tadi bawa headset buat dengerin lagu dari hape kan ga bengong. Yah jadinya bengong aja duduk manis di sodako sambil ngeliat ke jendela.

Selalu bersemangat kalo pagi2 gini. Ngamatin aktifitas orang, bapak2 yang nganterin anak ato istrinya, siswa sekolah yang berjalan cepat sambil buka2 buku catatan takut terlambat padahal jam pertama ada ujian, pedagang asongan yang pagi2 udah nawarin rokok yang tanpa mereka sadar bisa mencemari udara segar dan sejuk ini. Banyak banget kehidupan yang mulai bergejolak. Orang2 yang mulai mengais rezeki, pak polisi yang mengatur laju laulintas pagi atau orang2 yang sekedar jalan pagi karena udah pensiun dini.


Tiba2 sodako yang kutumpangi berhenti. Ibu separuh baya yang juga akan menumpang. Kuperhatikan dia diantar oleh suaminya yang kuduga usianya ga jauh dengan usia mbahku di Baturaja sana, kalo saja mbah masih hidup. Perlahan dia berpamitan dengan suaminya sementara sodako menunggu. Dia ulurkan tangannya yang tak lagi sehalus 20 tahun lalu itu pada suaminya. Tersenyum ia mencium tangan suaminya dan berucap ‘Assalammualaikum’, sambil melambai ia naik ke sodako dan sodakopun bergerak pelan diiringi tatapan si Bapak. Ah entah kenapa tak diantarnya istri sampai ke tujuan. Tapi melihat mereka berinteraksi tadi membuatku sedikit merasakan cinta indah mereka. Sudah setua itu tetap saja setia dan saling menjaga. Mungkin sudah banyak derita yang hinggap di rumah mereka atau bahkan bahagia yang menyelinap di balik halaman mengisi rumah mereka dengan tawa renyah anak cucu yang berkunjung. Sederhana saja tampaknya, cinta dari wajah mereka.


Kubawa kembali ingatanku pada pagi sebelum ini. Perjalanan rutin ke kantor dari Darussalam (Medan) menuju Binjai yang menempuh kurang lebih 23 km. Bisa sampai 45 menit perjalanan atau hanya 30 menit saja. Selalu dengan sodako yang sama, 55. Tapi selalu saja dengan banyak cerita cinta di dalamnya :


Suatu kali, aku bersama penumpang lain harus tahan dengan seorang bapak yang dengan cuek mengepulkan asap rokoknya, padahal ada ibu hamil yang juga bersama kami didalam sodako kala itu. Bapak yang baikkah dia? Yah mungkin cinta dihatinya hanya sebatas puntung rokok yang kian di hisap kian habis.


Lain waktu, aq berbagi bangku dengan anak2 SMU yang sedang semangat2nya mengejar cita2. Semangat juga bertukar salam pada kawan yang memikat hati mereka. Semangat bercerita tentang ujian yang tak bisa mereka jawab juga semangat menunjukkan kepada teman wanita meraka kalo merekalah yang paling keren. Lucunya mereka sampai membawaku juga tertawa. Kata orang cinta SMU lah yang terindah.


Pernah juga, seorang ibu yang tak lebih dari 40 tahun bersama anaknya yang baru kelas 3 SD seangkot denganku. Mereka bergandengan tangan selalu. Si anak bercerita tentang gurunya yang mengajarkan tentang mimpi sebagaimana Bu Muslimah membiarkan Ikal bermimpi sampai ke Paris. Tak lepas tangan ibu memegangi lengan kecil anak lelakinya. Tak sungkan pula si kecil itu mengusap lembut wajah ibunya yang berdebu. Berpandangan mereka, tersenyum memadu rindu. Sementara aku, terenyuh. Teringat ibuku. Yang juga selalu mencintaku tak pernah mengeluh.


Tak hanya sekali, aku juga sering berbagi angkot dengan ibu muda yang dengan setia mengantar anaknya ke sekolah. Bersama dua anaknya, selalu saja ia mengantar anaknya ke SD di tengah kota. Selalu. Tak pernah absen meskipun hujan. Tak pernah absen meskipun tak sehat rasanya badan. Cinta ibu selalu saja begitu.

Sodako berhenti lagi, kali ini menyadarkanku betapa wajah cinta tidak saja hanya milik mereka yang selalu tertawa dari rumah mewah atau mobil keren yang selalu tampak seperti baru itu. Tapi disini, dari sodako bernomor 55 ini. Lebih banyak wajah cinta yang indah, sederhana dan mengajarkan kita setia.




>> pagi yang sama dengan pagi sebelumnya, mengenalkanku
wajah berbeda dari cinta. Terima kasih sodako 55..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: